Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 21 November 2017
cowpills
Photo by: modernfarmer.com

Resistensi Antibiotik Juga Bisa Terjadi di Sektor Peternakan

Selasa, 19 April 2016

Jakarta - Penggunaan antibiotik yang tidak bijak memicu terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Kondisi ini pun dipengaruhi penggunaan antibiotik di sektor peternakan.

Untuk itu, disampaikan drh Imron Suandy, MVPH dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Kementerian Pertanian, untuk menghambat laju resistensi antibiotik diperlukan kerja sama di sektor kesehatan manusia, hewan, dan juga lingkungan.

“Saat ini yang terjadi, peternak bisa beli antibiotik ke poultry shop tanpa dapat resep dari dokter hewan. Penggunaan antibiotik di sektor peternakan yang tidak tepat terjadi karena si peternak belum terlalu tahu cara menangani hewan yang sakit karena 70 persen peternakan di Indonesia itu skala kecil,” tutur drh Imron.

Dalam media briefing ‘One Health Approach’ di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (19/4/2016), drh Imron menambahkan pada prinsipnya penggunaan antibiotik di peternakan yakni untuk tujuan terapi (mengobati hewan yang sakit), pencegahan penyakit, dan growth promotion. Pada tujuan growth promotion, antibotik diberikan pada dosis tertentu untuk menekan bakteri patogen di saluran cerna.

Dengan begitu, jumlah bakteri baik meningkat dan ternak lebih optimal mengubah pakan menjadi daging. Namun, layaknya pada manusia, penggunaan dengan dosis tidak tepat dan tanpa pengawasan bisa memicu resistensi antibiotik.

Tahun 2011, Kementerian Pertanian memonitor pola resistensi antibiotik terhadap bakteri indikator yakni E.coli dan salmonella pada produk hewan. Diungkapkan drh Imron, ada perubahan pada praktik peternakan. Pada tahun 2010-2011, penicilin sering digunakan tapi setelah itu, ada perubahan penggunaan ke arah aminoglikosida karena penicilin dianggap tidak efektif.

“Hasil monitoring kita, dalam 1 tahun isolated salmonella yang intermediate berubah jadi resisten, dulu tahun 2012 tidak terlalu tinggi resistensinya tapi setelah itu berubah jadi resisten,” kata drh Imron.

Untuk mengatasi kondisi ini, drh Imron menegaskan perlunya regulasi yang ia akui memang tidak mudah dilakukan. Sebab, diperlukan dorongan dari berbagai pihak di antaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, profesional, dan juga stakeholder lainnya.

Hadir dalam kesempatan sama, Dewi Indriani dari WHO menyatakan di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, resistensi antibiotik membuat infeksi pada hewan sulit diobati dan berpengaruh pada besarnya biaya pengelolaan peternakan, pertanian, dan perikanan.

“Peternak juga punya risiko tertular apabila ternak terinfeksi kuman yang resisten,” kata Dewi.

Sumber: Detik.com