www.civas.net
Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 18 August 2019
Kerbau terserang penyakit ngorok
Sumber : duniaternak.com

Kejadian Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) pada Ternak di Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2015

Septicaemia Epizootica (SE) atau lebih lazim dikenal Penyakit Ngorok dilaporkan menyerang ternak kerbau di Aceh. Penyakit SE sering menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternak, terutama apabila tidak ditanggulangi secara seksama. Penyakit SE biasanya berjalan cepat dan menimbulkan angka kematian yang tinggi terutama ternak yang telah menunjukkan gejala klinis jelas.

690 Ekor Ternak Mati Sejak 2013 di Kabupaten Gayo Leus

Ratusan ekor ternak masyarakat Kabupaten Gayo Lues (Galus) mati, terutama sapi dan kerbau yang tersebar di 11 kecamatan. Diperkirakan, dari akhir 2013 sampai awal 2015, sebanyak 690 ekor ternak mati, sebagian besar kerbau.

Kabid Peternakan Galus, Imran, kepada Serambi, Kamis (27/8) mengatakan sebagian ternak mati di kandang, diduga terserang penyakit. “Ternak yang mati terserang penyakit Septicimea Epizootica (SE) setelah dilakukan uji coba di laboratorium,” sebut Imran.

Dia mengatakan tanda-tanda hewan mulai terkena penyakit, seperti mulut  mengeluarkan busa dan berbuih, selain itu selera makan ternak terus berkurang. Imran menyatakan petugas peternakan sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran penyakit SE atau ngorok, tetapi belum maksimal.

10 Kerbau Mati Diserang Ngorok di Kabupaten Aceh Barat

Sebanyak 10 ekor kerbau milik warga di Kecamatan Arongan Lambelek dan Kaway XVI dalam dua pekan terakhir mati mendadak akibat serangan penyakit SE. Berdasarkan data diperoleh Serambi pada 15 Agustus 2015 lalu, enam ekor kerbau milik warga Desa Cot Buloh, Kecamatan Arongan Lambelek ditemukan mati mendadak. Sementara empat kasus yang sama juga ditemukan di Desa Pasi Meugat, Kecamatan Kaway XVI dua hari lalu.

“Tim kesehatan hewan dari Distannak sudah mengecek penyebab,” kata Kasi Pencegahan Pemberantasan Penyakit (P3) Hewan Distannak Aceh Barat drh Mukharuddin kemarin.

Menurutnya penyebab kerbau mati dalam jumlah besar itu karena diserang penyakit ngorok akut. Apalagi dari fakta yang ditemukan kerbau milik petani tersebut tidak divaksin.

Muktaruddin mengatakan upaya vaksin oleh tim Keswan masih terus dilakukan ke desa-desa sehingga penyebaran penyakit ngorok tidak meluas. Sejauh ini dari laporan yang masuk ke Distannak terdapat 10 ekor kerbau mati akibat serangan SE. “Masyarakat peternak atau yang memiliki kerbau yang belum divaksin untuk segera divaksin sehingga terhindar dari penyakit SE. Langkah vaksin kita lakukan supaya kerbau mati mendadak tidak lagi terjadi,” ujar Mukharuddin.  (c40 | riz)

Sumber: Serambi Indonesia (disunting)

Tinggalkan Balasan

Kejadian Penyakit Septicaemia Epizootica (SE) pada Ternak di Aceh

by Tisna Sutisna time to read: 1 min
0