Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 24 June 2017
Foto Brucelosis Banten

Keikutsertaan CIVAS dalam Diskusi Pembebasan Brucellosis di Provinsi Banten

Selasa, 12 Mei 2015

Oleh: Nofita Nurbiyanti dan Riana A. Arief

Banten – Pada hari Selasa, 12 Mei 2015, Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) turut berpartisipasi menghadiri Diskusi “Pembebasan Brucellosis di Provinsi Banten”, yang diselenggarakan oleh Balai Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (BKHKMV), Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, berlokasi di Jl. Raya Cilegon Km.4 Drangong, Serang, Banten. Pada kesempatan diskusi ini, Drh. Ridvana Dwibawa Darmawan, selaku Direktur Eksekutif CIVAS hadir sebagai narasumber yang dibantu oleh Drh. Riana Aryani Arief. MS dan Drh. Sunandar sebagai narasumber pendukung, serta dihadiri oleh Nofita Nurbiyanti, SKH sebagai peserta CIVAS.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai sarana bertukar pikiran dan untuk mendapatkan masukan terhadap program surveilans pembebasan brucellosis yang telah dilaksanakan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten sejak tahun 2012 hingga 2015.

CIVAS sangat mengapresiasi dan menghargai usaha dan tekad dari Pemerintah Provinsi Banten yang memiliki target pembebasan terhadap penyakit Brucellosis di wilayahnya pada tahun 2017. Keinginan tersebut telah disampaikan oleh Ibu Aan Muawanah, Kepala BKHKMV pada sesi sambutan dan pengarahan acara diskusi. Dalam pengarahannya, Ibu Aan Muawanah pun meminta kepada segenap peserta yang hadir agar dapat berpartisipasi aktif dalam mensukseskan program surveilans Brucellosis tahun 2013-2015 di Banten. Selanjutnya, CIVAS sebagai tim ahli konsultan yang pernah membantu dalam pembuatan draft Masterplan Pengendalian dan Pemberantasan Brucellosis di Indonesia dan merupakan proyek kerjasama antara Departement of Agriculture, Fisheries and Forestry (DAFF), Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Disease: Animal Health Program (AIP EID) dan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, diminta memberikan masukan dan saran terkait dengan program surveilans dari Balai Veteriner Subang yang telah dilakukan oleh Dinas setempat dengan didasarkan atas pertimbangan dari draft Masterplan Pengendalian dan Pemberantasan Brucellosis di Indonesia.

Sebanyak 15-20 orang peserta yang merupakan perwakilan dari dinas peternakan dan kesehatan hewan atau fungsi yang membidangi dari berbagai kabupaten/kota di seluruh wilayah Banten, turut hadir dan memberikan kesediaan dan menyatakan komitmennya dalam program surveilans ini. Perbedaan pendapat dalam diskusi tidak membuat patah semangat peserta lainnya, justru menambah wawasan dan pandangannya. Diskusi pun diakhiri dengan beberapa kesimpulan dari Ibu Aan Muawanah yang meminta agar seluruh peserta dapat memegang komitmen bersama ini dalam penyelesaian pengambilan sampel surveilans pada tahun 2015 dan memahami pembebasan Brucellosis tidak hanya dilakukan pada sapi saja, melainkan juga pada kerbau. Selain itu juga meminta bantuan kepada perwakilan dari Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten untuk dapat membantu merealisasikan kompensasi yang dimasukan dalam anggaran tahun 2016/2017 serta meminta agar dapat menyamakan presepsi dengan BBV Subang terkait detect disease dan ukuran sampel.