Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 24 June 2017
IMG_2983

CCLEP Veterinary Leadership

Sabtu, 15 November 2014

Kepemimpinan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam setiap komunitas, kepemimpinan diperlukan agar dapat mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan seorang dokter hewan pun dituntut karena pada profesi dokter hewan terdapat otoritas medis veteriner. Dalam hal penanganan dan pengendalian penyakit hewan, baik skala pasien maupun populasi, dokter hewan harus memiliki sifat kepemimpinan agar dapat menggerakkan pemilik hewan maupun pihak-pihak yang berkepentingan agar tindakan penanggulangan dapat terlaksana secara tepat. Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) sendiri mengakui kepemimpinan sebagai bagian dari kompetensi profesional dokter hewan.

Menanggapi kebutuhan ini maka Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) melalui program CIVAS Continuous Learning and Education Program (CCLEP) mengundang Dr. John Weaver, konsultan program Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIP-EID), untuk berbicara lebih jauh mengenai Veterinary Leadership.  Kegiatan ini diadakan di Ruang Rapat CIVAS pada hari Sabtu, 15 November 2014, dan dihadiri oleh 10 orang anggota CIVAS.

Dr. John berbicara mengenai konsep kepemimpinan, 16 jenis kepribadian menurut Myer Briggs, model kepemimpinan, pentingnya komunikasi melalui bahasa tubuh, dan kecerdasan emosional (emotional intelligence). Kepemimpinan yang dibicarakan bukan pemimpin yang diperoleh dari jabatan, namun cerminan sikap dan perilaku dalam kelompok dan organisasi yang dapat menyatukan dan memajukan banyak orang. Pengembangan sifat kepemimpinan yang baik dapat dimulai dari mengenali kepribadian diri sendiri dan rekan kerja lainnya. Perbedaan kepribadian ini yang oleh Myer Briggs diklasifikasikan menjadi 16 jenis berdampak pada perbedaan metode dan kenyamanan dalam bekerja bagi masing-masing orang. Pemimpin yang baik dapat mengenali perbedaan sifat ini dan memaksimalkan kekuatan serta menyangga kelemahan anak buahnya. Model kepemimpinan juga dapat berbeda-beda. Ada model kepemimpinan dimana semua kegiatan hanya berupa perintah tanpa adanya dukungan dari pemimpin (directing) hingga keadaan dimana pekerjaan didelegasikan dan anak buah dapat bekerja secara mandiri (delegating). Model yang dibicarakan ini didasarkan pada Hersey-Blanchard Situational Leadership Model.

Terakhir, kecerdasan emosional, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola berbagai macam jenis emosi yang mempengaruhi diri sendiri dan orang lain, sangat besar peranannya dalam dinamika berkelompok dan berorganisasi. Kecerdasan emosional ini berdampak pada kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, membangun relasi, dan berkompromi. Ketiga hal tersebut sangat penting diperlukan dalam seorang pemimpin. Oleh karena itu selain kemampuan teknis terkait kepemimpinan, kecerdasan emosional juga harus dimiliki bila ingin menjadi pemimpin yang baik. **