Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Saturday, 20 October 2018

Brucellosis

Minggu, 23 Februari 2014

I. Pendahuluan

Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini juga dapat menyerang berbagai jenis hewan lainnya dan ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun.

Di Indonesia, Brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular. Agen penyebab brucellosis pertama kali diisolasi oleh Bruce pada tahun 1887 dari manusia. Pada saat itu bakteri temuannya disebut Micrococcus melitensis, namun kemudian dikenal sebagai Brucella melitensis. Pada tahun 1897, Bang dan Stribolt mengisolasi bakteri serupa, yaitu Brucella abortus, dari sapi yang menderita penyakit Keluron Menular.

Meskipun tingkat kematian akibat brucellosis adalah kecil, namun penyakit ini sangat penting secara ekonomi. Pada ternak secara umum, kerugian yang paling nyata adalah aborsi, stillbirth, dan kemajiran, baik sementara maupun permanen. Pada ternak perah, selain kegagalan kebuntingan penyakit ini juga mengakibatkan penurunan produksi susu.

II. Etiologi]

II. Etiologi

Brucellosis disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Brucella merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang dengan panjang 0,5 - 2,0 mikron dan lebar 0,4 - 0,8 mikron. Bakteri ini non-motil, tidak berspora, dan bersifat aerob. Brucella merupakan parasit intraseluler fakultatif. Pada lingkungan yang hangat dan lembab, seperti di Indonesia, bakteri Brucella dapat bertahan hingga berbulan-bulan di lingkungan.

Brucella memiliki 2 jenis antigen, yaitu antigen M dan antigen A. Brucella melitensis memiliki lebih banyak antigen M dibandingkan antigen A, sedangkan B. abortus dan B. suis sebaliknya. Brucella mempunya antigen bersama (common antigen) dengan beberapa bakteri lainnya seperti Campylobacter fetus dan Yersinia enterocolobacter.

[section_title title=III. Etiologi]

III. Etiologi

Brucellosis disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Brucella merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang dengan panjang 0,5 - 2,0 mikron dan lebar 0,4 - 0,8 mikron. Bakteri ini non-motil, tidak berspora, dan bersifat aerob. Brucella merupakan parasit intraseluler fakultatif. Pada lingkungan yang hangat dan lembab, seperti di Indonesia, bakteri Brucella dapat bertahan hingga berbulan-bulan di lingkungan.

Brucella memiliki 2 jenis antigen, yaitu antigen M dan antigen A. Brucella melitensis memiliki lebih banyak antigen M dibandingkan antigen A, sedangkan B. abortus dan B. suis sebaliknya. Brucella mempunya antigen bersama (common antigen) dengan beberapa bakteri lainnya seperti Campylobacter fetus dan Yersinia enterocolobacter.

[section_title title=III. Epidemiologi]

III. Epidemiologi

Inang

Brucellosis umumnya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Brucellosis pada sapi dan kerbau utamanya disebabkan oleh Brucella abortus, namun infeksi oleh B. suis dan B melitensis juga kadang dapat ditemukan. Pada babi, brucellosis disebabkan oleh Brucella suis. Brucellosis pada kambing dan domba disebabkan oleh B. melitensis dan B. ovis, sedangkan pada kuda oleh B. abortus dan B. suis. Pada anjing, brucellosis utamanya disebabkan oleh B. canis, bila ditemukan infeksi oleh B. abortus, B. suis, atau B. melitensis maka hal tersebut umumnya berkaitan dengan adanya infeksi brucellosis pada ternak di sekitarnya.

Cara penularan

Brucellosis ditularkan melalui ingesti bakteri yang terdapat dalam susu, fetus abortus, membran fetus, dan cairan uterus atau kopulasi dan inseminasi buatan. Pada sapi jantan, bakteri ini dapat ditemukan dalam semen yang dihasilkan. Pada domba, brucellosis juga diketahui dapat ditularkan antar domba jantan melalui kontak langsung. Infeksi biasanya tahan lama pada domba jantan dan B. ovis akan diekskresikan dalam persentasi yang tinggi secara intermiten selama kira-kira =4 tahun.

Brucellosis dapat ditularkan ke manusia melalui konsumsi susu segar dan produk susu dari hewan yang terinfeksi atau kontak langsung dengan sekresi, ekskresi, dan bagian tubuh hewan yang terinfeksi, seperti jaringan, darah, urin, cairan vagina, fetus abortus, dan plasenta.

Kejadian di dunia dan Indonesia

Brucellosis tersebar secara luas di seluruh dunia. Sebagian besar negara maju sudah berhasil mengendalikan penyakit pada ternak dan hewan kesayangan, namun masih kesulitan mengeradikasi brucellosis pada populasi satwa liar. Hanya ada satu negara yang berhasil membebaskan diri dari brucellosis, yaitu Irlandia pada Juli 2009.

Brucellosis pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1953. Sejak itu reaktor brucellosis telah ditemukan secara luas di pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Timor, kecuali Bali. Pada tahun 2002, pulau Bali dinyatakan bebas historis penyakit brucellosis melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 443/Kpts/TN.540/7/2002, sementara pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinyatakan bebas penyakit brucellosis melalui program pemberantasan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 444/Kpts/TN.540/7/2002. Di tahun 2009, Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2541/Kpts/PD.610/6/2009 dan pulau Kalimantan juga dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2540/Kpts/PD.610/6/2009.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko penyebaran brucellosis adalah pemasukan hewan terinfeksi atau carrier ke dalam peternakan, lingkungan, kandang, dan peralatan yang teinfeksi, serta manusia.

[section_title title=IV. Identifikasi Penyakit]

IV. Identifikasi Penyakit

Gejala Klinis

Sapi

Aborsi adalah adalah gejala utama brucellosis pada sapi betina. Infeksi juga dapat menyebabkan kelahiran pedet yang lemah (stillbirth), retensi plasenta, dan penurunan produksi susu. Pada sapi jantan, infeksi dapat terjadi pada vesikula, ampula, testis dan epididimis. Testis juga dapat mengalami abses. Infeksi yang menahun dapat mengakibatkan terjadinya arthritis.

Domba dan Kambing

Infeksi brucellosis pada kambing dan infeksi B. melitensis pada domba menyebabkan gejala yang mirip dengan sapi. Namun, infeksi B. ovis menghasilkan gejala penyakit yang spesifik untuk domba, hewan jantan akan menderita epididimitis dan orchitis yang akan sangat mempengaruhi fertilitasnya.

Pada hewan betina, penyakit ini biasanya menyebabkan aborsi pada kebuntingan umur 4 bulan. Selain itu dapat juga ditemukan placentitis serta kematian perinatal.

Pada pejantan, kelainan pertama yang mungkin terdeteksi adalah penurunan kualitas semen yang dihasilkan, dimana banyak terkandung sel-sel radang dan mikroorganisme. Kambing jantan dapat menderita arthritis dan orchitis.

Anjing

Gejala utama adalah aborsi pada trimester terakhir kebuntingan yang biasanya diikuti dengan keluarnya cairan dari vagina yang berkepanjangan. Anjing yang terinfeksi dapat mengalami limfadenitis dan pada jantan seringkali terjadi pula epididimitis, periorchitis, dan rostatitis.

Babi

Gejala klinis brucellosis pada babi mirip dengan gejala pada sapi dan kambing. Gejala yang umum muncul adalah aborsi, sterilitas sementara atau permanen, orchitis, kepincangan, paralisis posterior, spondylities, dan terkadang dapat juga terjadi metritis dan pembentukan abses pada ekstrimitas atau bagian lain dari tubuh. Kejadian aborsi dapat berkisar antara 0 – 80% dan dapat terjadi pada awal kebuntingan sehingga tidak terdeteksi. Hewan yang demikian akan segera kembali ke siklus estrusnya. Timbulnya sterilitas adalah umum dan itu dapat menjadi satu-satunya gejala klinis yang timbul. Oleh karena itu, bila ada sterilitas dalam sekelompok hewan maka brucellosis akan menjadi kecurigaan utama.

Kuda

Pada kuda, gejala utama yang paling umum ditemukan adalah bursitis suppuratif. Keadaan ini dikenal juga sebagai fistulous withers atau poll evil. Terkadang, aborsi juga dapat ditemukan.

Manusia

Masa inkubasi pada manusia umumnya 30 sampai 60 hari. Gejala yang seringkali muncul adalah demam dengan jangka waktu yang bervairasi, keringat dingin, sakit kepala, lemah, nyeri sendi, depresi, dan penurunan bobot badan. Infeksi supuratif dapat terjadi pada organ-organ tubuh. Selain itu dapat juga terjadi komplikasi osteoartikular dan keterlibatan sistem genitourinari. Bila terjadi endorkarditis maka derajat fatalitas kasus menjadi tinggi. Penyakit dapat kambuh lagi di kemudian hari.

Patologi Anatomi

Sapi

Fetus aborsi dapat tampak normal, mengalami autolisis, atau oedema subkutan dan cairan serosanguineus dalam rongga tubuhnya. Limpa dan/atau hati dapat mengalami pembesaran dan pada paru-paru dapat ditemukan pneumonia dan pleuritis fibrous. Kejadian aborsi fetus pada betina terinfeksi umumnya disertai dengan plasentitis, dimana kotiledon dapat tampak merah, kuning, normal, atau nekrotik. Daerah interkotiledon dapat tampak basah dengan penebalan fokal. Dapat juga ditemukan eksudat pada permukaannya.

Lesio purulen hingga granulomatosa dapat ditemukan pada saluran reproduksi jantan maupun betina, kelenjar mamae, limfonodus supramamari, jaringan limfoid lainnya, tulang, sendi, serta jaringan dan organ lain. Endometritis ringan hingga berat dapat ditemukan setelah kejadian aborsi dan pada hewan jantan dapat ditemukan epididimitis dan/atau orchitis unilateral atau bilateral. Higroma juga dapat ditemukan pada sendi karpalis, lutut, tarsalis, serta antara ligamentum nuchae dan os vertebrae thoracic pertama.

Domba

Manifestasi utama penyakit pada jantan adalah lesio pada epididimis, tunika dan testis. Pada betina utamanya terjadi placentitis dan aborsi, selain itu dapat juga terjadi mortalitas perinatal pada anak domba. Lesio dapat terbentuk dengan cepat. Pembesaran epididimis dapat bersifat unilateral atau bilateral. Pembesaran lebih sering terjadi pada cauda epididimis dibandingkan caput atau corpus dan lesio yang paling jelas adalah terbentuknya spermatocele dengan berbagai ukuran yang mengandung cairan spermatik. Seringkali tunika menebal dan menjadi fibrous serta mengalami pelekatan. Testis dapat mengalami atropi fibrous, lesi yang demikian umumnya bersifat permanen. Dalam beberapa kasus, lesionya bersifat sangat jelas, namun ada juga kasus-kasus dimana bakterinya ada dalam semen dalam jangka waktu yang lama tanpa menunjukkan gejala klinis. Karena tidak semua pejantan terinfeksi mempunyai kelainan jelas pada jaringan scrotalnya dan tidak semua kasus epididimitis adalah karena brucellosis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kambing

Pada jantan dapat ditemukan epididimitis dan orchitis. Dapat ditemukan pembesaran epididimis unilateral atau bilateral dengan bagian kauda lebih sering mengalami kelainan dibandingkan kaput atau korpus. Dalam testis dapat terjadi atrofi fibrous. Tunika vaginalis menebal dan fibrous dan dapat terjadi perlekatan. Pada betina terinfeksi terkadang dapat ditemukan plasentitis.

Anjing

Fetus aborsi seringkali ditemukan mengalami autolisis sebagian dan memiliki tanda-tanda infeksi bakterial secara umum. Lesio pada fetus dapat berupa oedema subkutan, kongesti dan hemoragi subkutan pada daerah abdominal, cairan periotneal serosanguineus, dan lesio degeneratif pada hati, limpa, ginjal, dan usus.

Pada anjing dewasa umumnya ditemukan pembesaran limfonodus, seringkali pada limfonodus retrofaringeal dan inguinal, namun limfadenitis secara umum juga dapat terjadi. Limpa seringkali ditemukan membengkak dan dapat memiliki konsistensi yang padat dan nodular. Dapat juga ditemukan hepatomegali. Pada jantan terinfeksi dapat ditemukan pula oedema scrotalis, dermatitis scrotalis, epididimitis, orchitis, prostatitis, atrofi testis, dan fibrosis testis. Pada betina dapat ditemukan metritis dan eksudat dari vagina. Pada beberapa kasus dapat juga ditemukan diskospondilitis, meningitis, ensephalitis fokal non-suppuratif, osteomyelitis, uveitis, dan abses dalam berbagai organ dalam.

Pengambilan dan Pengiriman Sampel

Pengambilan sampel harus dilakukan se-aseptis mungkin untuk mengurangi kontaminasi yang dapat mengganggu pengujian. Semua sampel yang diambil dari hewan yang diduga menderita Brucellosis berpotensi membahayakan kesehatan manusia, oleh karena itu proses pengambilan dan pengemasan sampel perlu dilakukan secara hati-hati.

Sapi

Bakteri dapat diisolasi dari fetus aborsi (isi lambung, limpa, dan paru-paru), membran fetus, cairan uterus, cairan vagina, semen, susu, cairan hygroma atau sampel jaringan plasenta, limfonodus, organ reproduksi jantan maupun betina, dan kelenjar mammae. Sementara antibodi dapat dideteksi dari susu, whey, semen, dan serum darah. Sampel susu harus diambil dari keempat puting dengan terlebih dahulu membuang perahan pertama.

Domba dan Kambing

Bakteri dapat diisolasi dari fetus aborsi, cairan uterus, cairan vagina, susu, semen atau sampel jaringan limfonodus, limpa, uterus, testis, dan epididimis. Antibodi dapat dideteksi dari serum darah. Sampel susu harus diambil dari semua puting dengan terlebih dahulu membuang perahan pertama.

Anjing

Bakteri dapat diisolasi dari fetus abortus, eksudat vagina, darah, susu, atau semen anjing yang terinfeksi. Antibodi dapat dideteksi dari serum darah.

Babi

Bakteri dapat diisolasi dari fetus aborsi, carian uterus, atau sampel jaringan plasenta, limfonodus, dan organ. Antibodi dapat dideteksi dari serum darah.

Pengujian Laboratorium

Sapi

Bakteri dapat diidentifikasi dengan modified acid-fast staining atau metode polymerase chain reaction (PCR). Bila dimungkinkan sebaiknya dilakukan kultur bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif.

Uji serologis standar adalah uji serum agglutination. Uji-uji lain yang dapat digunakan adalah uji ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), complement fixation, rivanol precipitiation, and acidified antigen procedure.

Uji antigen Brucella seperti rose bengal test dan buffered plate agglutination test, dan complement fixation test, ELISA, atau fluorescence polarization assay adalah beberapa uji yang cocok untuk screening penyakit pada kelompok ternak dan hewan individual. Namun, tidak ada uji yang cocok untuk semua keadaan, oleh karena itu sampel yang positif pada pengujian awal harus dikonfirmsi lagi. Uji indirect ELISA atau milk ring test cocok untuk screening dan memonitor brucellosis pada sapi perah, tetapi milk ring test kurang baik hasilnya bila diaplikasikan pada kawanan ternak yang besar. Uji immunologis lain, yaitu brucellin skin test,dapat digunakan untuk screening atau untuk mengkonfirmasi reaktor serologis positif dalam kelompok ternak yang tidak divaksinasi.

Anjing

Brucellosis pada anjing didiagnosis melalui isolasi dan identifikasi agen penyebab penyakit atau melalui uji serologis. Uji serologis yang paling umum digunakan adalah uji aglutinasi menggunakan metode tabung atau gelas objektif. Reaksi aglutinasi non-spesifik kadang terjadi pada beberapa anjing dimana bakteri Brucella tidak dapat diisolasi. Untuk menghilangkan antibodi non-spesifik, serum dapat diberi 2-mercaptoethanol dan kemudian diuji ulang. Selain uji-uji di atas, dapat juga digunakan agar gel immunodiffusion test, uji ini bersifat cukup spesifik.

Domba dan Kambing

Bakteri dapat diidentifikasi dengan modified acid-fast staining atau metode polymerase chain reaction (PCR). Selain itu, pemeriksaan juga dapat dilakukan menggunakan teknik fluorescent antibody yang bersifat sangat spesifik. Pemeriksaan mungkin harus dilakukan beberapa kali karena bakteri diekskresikan secara intermiten. Bila dimungkinkan sebaiknya dilakukan kultur bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif.

Untuk B. melitensis, pengujian serologis yang umum digunakan untuk memeriksa kelompok maupun individu ternak adalah buffered Brucella antigen test (BBAT) dan complement fixation test (CFT). Pengujian menggunakan uji aglutinasi serum pada ruminansia kecil kurang dapat diandalkan. Indirect enzyme-linked immunosorbent assay (I-ELISA) dan fluorescence polarization assay (FPA) juga dapat digunakan untuk screening. Brucellin allergic skin test juga dapat digunakan pada kelompok ternak yang tidak divaksinasi dengan syarat preparat antigen yang digunakan terstandarisasi, murni dan bebas lipopolisakarida (LPS). Dalam interpretasinya, hasil uji tersebut harus dikaitkan dengan gejala klinis, sejarah, dan hasil pemeriksaan serologis dan kultur bakteri.

Untuk B. ovis, uji serologis yang umum digunakan adalah complement fixation test (CFT). Selain uji tersebut dapat juga dilakukan uji agar gel immunodiffusion (AGID), dan indirect enzyme-linked immunosorbent assay (I-ELISA)

Babi

Bakteri dapat diidentifikasi dengan modified acid-fast staining atau metode polymerase chain reaction (PCR). Bila dimungkinkan sebaiknya dilakukan kultur bakteri menggunakan media kultur biasa atau selektif.

Uji serologis yang umum digunakan adalah buffered Brucella antigen test (BBAT), indirect dan competitive enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), Rose Bengal test (RBT) complement fixation test (CFT), dan fluorescence polarization assay (FPA). Selain itu, allergic skin test dan buffered plate agglutination test (BPAT) juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi infeksi pada kawanan ternak.

Diagnosa Banding

Sapi

Diagnosa banding brucellosis pada sapi adalah penyakit lain yang dapat menyebabkan aborsi atau epididimitis dan orchitis, seperti trichomoniasis, vibriosis, leptospirosis, listeriosis, infectious bovine rhinotracheitis dan mikosis.

Domba dan Kambing

Diagnosa banding brucellosis pada kambing dan domba adalah penyakit lain yang dapat menyebabkan aborsi pada ruminansia kecil, terutama chlamydiosis dan coxiellosis atau penyakit lain yang dapat menyebabkan epididimitis dan orchitis, seperti Actinobacillus seminis, A. actinomycetemcomitans, Histophilus ovis, Haemophilus spp., Corynebacterium pseudotuberculosis ovis, dan Chlamydophila abortus. Lesio akibat trauma juga perlu dipertimbangkan.

Anjing

Diagnosa banding brucellosis pada anjing diantaranya beta-hemolytic streptococci, Escherichia coli, Mycoplasma, Ureaplasma, Streptomyces, Salmonella, Campylobacter, canine herpesvirus, Neospora caninum dan Toxoplasma gondii.

Babi

Diagnosa banding brucellosis pada babi adalah penyakit lain yang menyebabkan aborsi, orchitis, arthritis, paralisis posterior, dan kepincangan. Aborsi di babi dapat juga disebabkan oleh Aujeszky’s disease (pseudorabies), leptospirosis, erysipelas, salmonellosis, streptococcidiosis, classical swine fever and porcine parvovirus infection.

[section_title title=V. Penanganan Penyakit]

V. Penanganan Penyakit

Pencegahan

Brucellosis dapat dicegah dengan vaksinasi. Pada sapi, terdapat dua jenis vaksin yang tersedia yaitu vaksin Brucella abortus strain RB51 dan strain 19. Pada kambing dan domba, vaksinasi dilakukan menggunakan vaksin Brucella melitensis strain Rev. 1, baik untuk B. Melitensis maupun B. ovis. Sementara itu, belum ada produk vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi B. suis pada babi dan B. canis pada anjing. Semua produk vaksin yang tersedia merupakan vaksin hidup dan berpotensi menimbulkan aborsi bila diberikan pada ternak bunting.

Pengendalian dan Pemberantasan

Sapi

Deteksi penyakit dan pencegahan sangat penting karena tidak ada pengobatan efektif yang tersedia saat ini. Eradikasi sangat tergantung pada pengujian dan pemusnahan reaktor (test and slaughter). Penyakit ini telah dieradikasi di banyak daerah melalui metode ini. Ternak harus diuji secara rutin hingga diperoleh hasil negatif 2 atau 3 kali berturut-turut.

Kelompok yang bebas penyakit harus dilindungi. Risiko terbesar berasal dari hewan baru. Hewan baru sebaiknya pedet yang sudah divaksinasi atau sapi dara. Jika ada penambahan sapi bunting atau yang lainnya maka sapi-sapi tersebut harus berasal dari daerah yang bebas brucellosis dan harus seronegatif. Sapi baru sebaiknya diisolasi minimal 30 hari dan diuji sebelum digabungkan ke ternak yang lain.

Domba dan Kambing

Kejadian penyakit dan penyebarannya dapat dikurangi melalui pemeriksaan rutin pejantan sebelum memasuki musim kawin dan pengafkiran pejantan yang memiliki kelainan pada alat reproduksinya. Karena kerentanan bertambah seiring dengan bertambahnya umur, maka dianjurkan untuk memelihara pejantan yang muda. Selain itu pejantan yang diketahui bebas penyakit sebaiknya diisolasi dan dipisahkan dari pejantan tua yang mungkin sudah terinfeksi. Karena infeksi pada betina hampir seluruhnya terjadi akibat perkawinan dengan jantan terinfeksi, maka pelaksanaan program vaksinasi pada jantan dapat secara efektif mengatasi keadaan ini. Penyakit ini dapat dieliminasi dengan mengafkir kelompok ternak.

Penggunaan chlortetracycline dan streptomycin secara bersamaan dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi hal ini tidak ekonomis dari segi biaya kecuali pada domba dengan nilai ekonomi tinggi. Selain itu, meskipun infeksinya dapat dihilangkan, namun infertilitas akibat penyakit mungkin takkan hilang.

Anjing

Pengendalian penyakit didasarkan pada eliminasi atau isolasi anjing yang terinfeksi. Kejadian penyakit jauh lebih rendah pada anjing-anjingnya dikandangkan secara individual. Terapi jangka panjang, misalnya dengan kombinasi streptomycin atau gentamicin dan tetracycline, telah berhasil mengatasi penyakit ini dalam banyak kasus.

Babi

Kehati-hatian sangat diperlukan saat membeli individu babi yang memiliki titer aglutinin yang rendah, kecuali bila status kelompok asal babi tersebut diketahui. Babi yang telah dibawa keluar dari peternakan harus selalu diisolasi terlebih dahulu sebelum digabungkan dengan kawanannya. Babi baru sebaiknya dibeli dari peternakan yang diketahui bebas brucellosis, atau diuji dan diisolasi selama 3 bulan, kemudian diuji sekali lagi sebelum digabungkan dengan kelompok ternak.

Pengendalian penyakit didasarkan pada pengujian dan pemisahan serta pengafkiran ternak yang terinfeksi karena tidak ada vaksin yang tersedia maupun pengobatan yang dapat dianjurkan.

Pencegahan dan Pengobatan pada Manusia

Pencegahan brucellosis pada manusia utamanya melalui eliminasi infeksi pada hewan inang (misalnya sapi, kambing) yang disertai dengan tindakan higiene sanitasi, vaksinasi, dan pengolahan produk susu dan makanan secara benar (melalui pemanasan yang cukup). Dalam banyak kasus, brucellosis pada manusia terkait dengan pekerjaan sepert dokter hewan, pekerja rumah potong hewan, peternak, dan pengolah susu. Pencegahan melalui tindakan higiene sanitasi sangat penting karena kontak dengan materi terkontaminasi memungkinkan agen penyakit menginfeksi melalui luka di kulit. Vaksin yang ada untuk manusia sangat terbatas efektifitasnya dan terkadang menimbulkan efek samping yang buruk.

Pengobatan brucellosis pada manusia bervariasi tergantung pada umur pasien dan status kehamilan. Pengobatan yang dianjurkan pada anak-anak berumur di bawah 8 tahun adalah kombinasi trimethoprim-sulfamethoxazole dan aminoglycoside atau kombinasi dari rifampicin dan trimethoprim-sulfamethoxazole selama 45 hari. Untuk pasien berumur 8 tahun atau lebih dianjurkan pengobatan dengan kombinasi doxycycline dan rifampicin atau dapat juga diberikan kombinasi rifampicin dan gentamicin. Rifampicin dikombinasikan dengan ciprofloxacin selama 30 hari telah terbukti efektif dan dapat digunakan untuk pengobatan dengan waktu pemberian obat yang lebih singkat. Pada anak-anak, monoterapi dengan rifampicin tidak dianjurkan karena persentase kambuh yang tinggi.

[section_title title=VI. Regulasi]

VI. Regulasi

Nasional

Brucellosis merupakan penyakit hewan menular strategis yang mendapat prioritas pengendalian dan/atau pemberantasan. Hal ini diatur dalam Surat Keputusan Direktur Jendral Peternakan No. 59/Kpts/PD610/05/2007 tentang Jenis-Jenis Penyakit Hewan Menular Yang Mendapat Prioritas Pengendalian Dan Atau Pemberantasannya.

Secara nasional, kebijakan pengendalian brucellosis adalah dengan mengendalikan lalu lintas sapi dan melaksanakan vaksinasi di daerah tertular berat (prevalensi >2%). Metode pemberantasan penyakit pada ternak adalah dengan test and slaughter (uji dan potong) reaktor positif sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 828/Kpts/OT.210/10/98 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada ternak.

Internasional

Regulasi internasional mengenai brucellosis pada sapi, domba, kambing, dan babi terdapat dalam Terrestrial Animal Health Code yang diterbitkan oleh OIE (World Animal Health Organization.

[section_title title=VII. Daftar Pustaka]

VII. Daftar Pustaka

Center for Food Security and Public Health (CFSPH), Insititute for Interational Cooperation in Animal Biologics (IICAB), World Animal Health Organizatino (OIE), 2007. Brucellosis [Online] http://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdfs/brucellosis.pdf (verified 3 August 2010).

Direktorat Kesehatan Hewan. 2004. Kebijakan Pemerintah Dalam Pemberantasan Brucellosis di Indonesia Khususnya Pulau Jawa. Disampaikan pada Pertemuan Evaluasi Pemberantasan Brucellosis di Surabaya 10-11 Desember 2004.

Food and Agriculture Organization (FAO). 2010. Surveillance of Porcine Brucellosis [Online] http://www.fao.org/docrep/006/y4723e/y4723e09.htm (verified 3 August 2010).

Merck Veterinary Manual. 2008. Brucellosis in Dogs: Introduction [Online] http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/112200.htm (verified 9 June 2010).

Merck Veterinary Manual. 2008. Brucellosis in Large Animals [Online] http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/toc_110500.htm (verified 9 June 2010).

New South Wales Department of Health. 2004. Brucellosis [Online] http://www.health.nsw.gov.au/factsheets/guideline/brucellosis.html (posted 6 September 2004; verified 9 June 2010).

Putra, A.A.G. 2005. Analisis Faktor Risiko Berjangkitnya Brucellosis di Breeding Farm di Jawa Tengah dan Upaya Pemberantasannya. Bulletin BPPV Reg. VI Denpasar No. 67.

Sauret, J.M., and N. Vilissova. 2002. Human Brucellosis. Journal of the American Board of Family Medicine 15:401.

World Animal Health Organization (OIE). 2004. Manual of Diagnostic Tests and Vaccines for Terrestrial Animals [Online] http://www.oie.int/fr/normes/mmanual/A_summry.htm (posted 23 April 2010; verified 9 June 2010).

World Animal Health Organization (OIE). 2009. Terrestrial Animal Health Code [Online »