Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Wednesday, 12 December 2018

Anthrax

Sabtu, 22 Februari 2014

I. Pendahuluan

Latar Belakang

Anthrax atau penyakit radang limpa merupakan salah satu penyakit zoonosis di Indonesia yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini selalu muncul setiap tahun serta menyebabkan kerugian yang besar bagi peternak. Istilah anthrax berarti arang, sebab penyakit ini menimbulkan gejala pada manusia berupa bisul kehitaman yang jika pecah akan menghasilkan semacam borok (bubonic palque). Dahulu, penyakit ini dikatakan sebagai penyakit kutukan karena menyerang orang yang telah disisihkan di masyarakat, bahkan bangsa Mesir pun pernah terkena panyakit ini kira-kira 4000 tahun sebelum masehi. Anthrax ditemukan oleh Heinrich Hermann Robert Koch pada tahun 1877, sedangkan Louis Pasteur adalah ilmuwan pertama penemu vaksin yang efektif untuk Anthrax pada tahun 1881.

Menurut catatan anthrax sudah dikenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda tepatnya pada tahun 1884 di daerah teluk Betung, Lampung. Pada tahun 1975, penyakit ini ditemukan di enam daerah yaitu Jambi, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Menurut data yang ada saat ini terdapat 11 provinsi yang endemis anthrak yaitu Jambi, Sumatera Barat, DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Jawa Barat (Kota Bogor, Kab. Bogor, Kota Depok), Jawa Tengah (Kota Semarang, Kab. Boyolali), NTB (Sumbawa, Bima), NTT (Sikka, Ende), Sulawesi Selatan (Makassar, Wajo, Gowa, Maros), Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara dan Papua. Daerah-daerah yang mempunyai catatan sejarah serangan anthrax akan tetap endemik yang berpotensi kuat untuk serangan berikutnya. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini cukup signifikan. Hewan akan mengalami penurunan bobot badan hingga kematian yang cukup banyak karena mudah menular dan bertahan di tanah dalam jangka waktu yang cukup lama (lebih dari 50 tahun).

II. Etiologi]

II. Etiologi

Penyebab
Anthrax disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang merupakan bakteri gram positif non motil dan berspora. Di bawah mikroskop tampak terlihat seperti barisan batang panjang dengan ujung-ujungnya siku, sementara di dalam tubuh inang, Bacillus anthracis tidak terlihat rantai panjang, biasanya tersusun secara tunggal atau pendek serta melindungi dirinya dalam kapsul, dan akan membentuk spora segera setelah berhubungan dengan udara bebas karena spora diketahui dapat bertahan hidup bertahun-tahun di dalam tanah yang cocok dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Oleh karena itu, bangkai hewan yang positif terkena anthrax atau mati dengan gejala anthrax tidak diperbolehkan dibedah untuk menutup peluang bakteri anthrax bersinggungan dengan udara. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar. Semua peralatan kerja yang pernah bersentuhan dengan hewan sakit harus direbus dengan air mendidih minimal selama 20 menit. Bacillus anthracis tidak begitu tahan terhadap suhu tinggi dan berbagai desinfektan dalam bentuk vegetatif. [section_title title=III. Epidemiologi]

III. Epidemiologi

Hewan Rentan
Semua hewan berdarah panas dapat terserang penyakit anthrax yang tingkat kepekaannya akan berbeda di antara spesies. Domba adalah yang paling peka, diikuti sapi, dan kuda. Sedangkan kerbau dan babi tergolong lebih tahan terhadap serangan anthrax. Penyakit ini bahkan pernah menyerang burung unta di daerah Purwakarta (Jawa Barat). Masa inkubasi bervariasi antara 3 - 5 hari. Dalam dunia kedokteran hewan anthrax sebenarnya merupakan penyakit yang sumber penularannya terdapat di tanah, hewan sering terkena akibat memakan sesuatu yang terdapat di tanah yang tercemar oleh spora Bacillus anthracis (daerah endemic).
Cara Penularan
Pada Hewan
Anthrax tidak menyebar langsung dari salah satu hewan terinfeksi ke hewan lain, tetapi biasanya masuk ke dalam tubuh hewan bersama makanan, alat-alat kandang, dan atau tanah (rumput) yang dianggap paling penting dan berbahaya. Spora yang ada di dalam tanah dapat naik ke permukaan karena pengolahan tanah dan selanjutnya spora tersebut hinggap di rumput yang kemudian termakan oleh hewan (ternak). Spora juga dapat masuk ke dalam kulit apabila hewan berada dan tidur di tempat yang tercemar. Spora akan tumbuh dan berkembang dalam jaringan tubuh menyebar keseluruh tubuh mengikuti aliran darah. Hewan penderita anthrax dapat menulari ternak lain melalui cairan (eksudat) yang keluar dari tubuhnya.
Pada Manusia
Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengkonsumsi produk hewan yang terkena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang (Woolsorters disease). Oleh karena itu ada empat tipe ántrax pada manusia, yaitu anthrax kulit, ántrax pencernaan/anthrax usus, anthrax pernapasan/anthrax paru-paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.
Kejadian di Indonesia
  • Menurut SUMANEGARA 1958, kejadian Anthrax di Indonesia pada sapi, kerbau, kambing, domba dan babi antara tahun 1906 sampai 1957, terdapat di daerah-daerah :
  • Sumatra dan Kalimantan : Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Buktitinggi, Sibolga dan Medan.
  • Jawa dan Madura : Jakarta, Purwakarta, Bogor, Priangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Bayumas, Madiun, dan Bojonegoro.
  • Nusa Tenggara : Di semua pulau seperti di Sumbawa, Sumba, Lombok, Flores, Timur Roti dan juga Bali.
  • Sulawesi : Sulawesi Selatan, Menado, Donggala dan Palu.
Dibeberapa tempat di Jawa Barat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi lima kali wabah yaitu tahun 1996 di kabupaten Purwakarta, Subang, Bekasi dan Karawang, tahun 1997 di kabupaten Purwakarta, Subang dan Karawang, tahun 1999 di kabupaten Purwakarta, Subang dan Bekasi, tahun 2000 di kabupaten Purwakarta, dan tahun 2001 di kabupaten Bogor seiring dengan mendekatnya Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha di tiga kecamatan yaitu Citeureup, Cibinong dan Babakan Madang yang mengakibatkan 2 orang meninggal dunia.
Kejadian Anthrax di Dunia
Di dunia anthrax masih banyak terjadi di negara-negara mediterania (Yunani, Italia, Spanyol, Yugoslavia, Turki), di kantong-kantong negara Kanada (MacKenzie Bison Range, North West Territory, Wood Buffalo National Park, Alberta bagian selatan dan utara) dan Amerika Serikat (South Dakota, Nebraska, Oklahoma, dan sebagian Texas), Amerika Tengah, Guatemala, Meksiko (enzootik) dan Amerika Selatan (Peru, Bolivia, Venezuela) serta di Asia Tengah, India bagian selatan (enzootik), Nepal (epidemik) sebagian di negara Afrika, Cina bagian barat, serta Asia Tenggara (Myanmar, Kamboja, Vietnam, Filipina, Thailand).
Faktor Resiko
Siklus dari infeksi di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor terjadinya sporulasi dan germinasi, seperti PH, suhu lingkungan aktivitas air, kandunganmineral. Faktor lain yaitu faktor yang berhubungan dengan musim seperti aktivitas merumput, kesehatan dari inang, populasi serangga dan aktivitas manusia. [section_title title=IV. Identifikasi Penyakit]

IV. Identifikasi Penyakit

Penularan dan Gejala Klinis
Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak. Masa inkubasi anthrax kulit sekitar 2 - 5 hari, walaupun masa inkubasi dapat mencapai 60 hari. Tingkat kematian manusia akibat Anthrax mencapai 18%. Penyakit Anthrax memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Sapi, domba atau kambing yang terserang, akan mengalami kematian dalam hitungan jam. Kemampuan membunuh yang sangat cepat ini justru ada baiknya, karena penularan penyakit anthrak sangat lambat dan tak meluas (endemik, sporadik).
Tanda-tanda Anthrax pada hewan
  • Demam suhu 41 – 420 C, gelisah, lemah, paha gemetar, nafsu makan hilang, kejang dan rubuh (akut)
  • Keluar darah dari dubur, mulut dan lubang hidung. Darah berwarna merah tua seperti kecap atau ter, agak berbau amis dan busuk serta sulit membeku.
  • Pembengkakan di daerah leher, dada dan sisi lambung, pinggang dan alat kelamin luar
  • Kematian dalam waktu singkat tanpa disertai tanda-tanda sebelumnya (perakut).
Tanda-tanda Anthrax pada manusia
  • Bentuk kulit Bersifat lokal, timbul bungkul merah pucat (karbunkel) yang berkembang menjadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah. Bungkul dapat pecah (koreng) dan akan muncul bungkul lain disekitarnya. Jaringan disekitar bungkul tegang, bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitar, kematian (septikemia)
  • Bentuk pernapasan Sesak nafas di daerah dada, batuk, demam (tidak terlalu tinggi), kematian akibat sesak nafas (dyspnoe disertai sianosis)
  • Bentuk pencernaan Nyeri dibagian perut, demam, menimbulkan kematian (septikemia)
Pada manusia awalnya kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri. Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. Secara lebih jelas dapat tersaji sebagai berikut:
Antraks kulit
Keluhan penderita: demam subfebris, sakit kepala. Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka, leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak dan tidak lekuk (non pitting) bila ditekan, disebut juga malignant pustule.
Antraks saluran pencernaan.
Keluhan penderita: demam subfebris, sakit kepala. Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka, leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak dan tidak lekuk (non pitting) bila ditekan, disebut juga malignant pustule.
Antraks saluran pencernaan
Keluhan penderita: rasa sakit perut yang hebat, mual, muntah, tidak napsu makan, suhu badan meningkat, hematemesis. Pemeriksaan fisik : perut membesar dan keras, dapat berkembang menjadi ascites dan edema scrotum.
Antraks paru-paru
Keluhan penderita: demam subfebris, batuk non produktif, lesu, lemah. Dalam 2 ? 4 hari gangguan pernafasan menjadi hebatdisertai suhu yang meningkat, sianosis. Dispneu, keringat berlebihan, detak jantung menjadi lebih cepat. Pemeriksaan fisik: edema subkutan di daerah dada dan leher.
Antraks meningitis
Akibat dari komplikasi bentuk antraks yang lain. Gejala klinis seperti randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.
Patologis Anatomis
Perubahan patologi anatomi terhadap hewan yang terkena anthrak adalah keluar darah berwarna gelap (merah tua-hitam) dari lubang-lubang kumlah seperti dubur, hidung, mulut, terjadi pembengkakan di daerah leher, dada dan sisi lambung, pinggang dan alat kelamin luar. Selain itu jika hewan yang menderita anthrak dilakukan nekropsi maka akan terlihat peradangan/pembengkakan pada limpa. Hewan yang dicurigai anthrax sebaiknya tidak dilakukan nekropsi.
Pengujian Laboratorium
Pemeriksaan mikroskopis sediaan ulas darah perifer adalah cara yang sederhana dan tepat, bilamana hewan masih dalam keadaan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan. Kumannya berbentuk batang besar, Gram positif, biasanya tersusun tunggal, berpasangan atau berantai pendek. Tidak terdapat spora. Dengan pewarnaan yang baik dapat dilihat adanya selubung (kapsel). Pemeriksaan dengan pemupukan, bahan mengandung Anthrax berupa darah atau jaringan lain yang berasal dari hewan sakit atau baru saja mati, dengan mudah dapat dipupuk pada media buatan. Jika bahan berasal dari jaringan yang telah membusuk, maka akan timbul kesulitan-kesulitan karena bakteri Anthrax mudah mati oleh pembusukan. Kuman-kuman anthrakoid akan ikut hadir dan tumbuh.
Pengambilan dan Pengiriman Sampel
Pengambilan untuk uji cepat di lapangan dilakukan pengambilan sampel darah utuk diberikan pewarnaan gram. Pemeriksaan mikroskopis sediaan ulas darah perifer adalah cara yang sederhana dan tepat, bilamana hewan masih dalam keadaan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan. Kumannya berbentuk batang besar, gram positif, biasanya tersusun tunggal, berpasangan atau berantai pendek dan tidak terdapat spora. Dengan pewarnaan yang baik dapat dilihat adanya selubung (kapsel). Specimens untuk uji kultur atau PCR harus di kirim menggunakan ice box dengan suhu, 2 - 8°C; specimens yang akan diuji PCR hanya dapat menggunakan dry ice dan dengan suhu -70°C.
Uji Yang Dilakukan
Spesimen segar
Visualisasi kapsul Bacillus anthracis berkapsul virulen terdapat di jaringan dan darah dan cairan tubuh lain dari hewan yang telah mati karena Anthrax dapat dilihat pada preparat ulas dari sepesimen tersebut yang telah dikeringkan, difiksasi dan diwarnai dengan polychrome methylene blue. Kapsul terlihat berwarna pink sementara sel bacillus terlihat berwarna biru tua. Sel-selnya terlihat berpasang-pasangan, atau rangkaian pendek. Pewarnaan Gram dan Giemsa tidak dapat mendeteksi kapsul. Kapsul tidak terdapat pada B. anthracis yang tumbuh dalam kondisi aerobic dalam nutrient agar atau nutrient broth. Alternatifnya kapsul dapat diproduksi ketika B. anthracis ditumbuhkan pada nutrient agar yang mengandung 0,70% sodium bicarbonate dan diinkubasi dalam 20% CO2. Polychrome methylene blue dibuat dengan cara sebagai berikut: 0,30 gram methylene blue dilarutkan dengan 30 ml 95% ethanol. Kemudian 100 ml KOH 0,01% dicampur dengan larutan methylene blue. Idealnya pewarnaan ini harus dibiarkan kontak dengan udara dengan digoyang-goyang sesekali selama paling tidak 1 tahun untuk mengoksidasi dan mematangkan. Penambahan K2CO3 (untuk konsentrasi akhir 1%) akan mempermudah pematangan pewarnaan. Preparat ulas yang diperlukan hanya satu tetes darah atau cairan jaringan yang diulaskan secara tipis. Setelah difiksasi dan dikeringkan, satu tetes kecil (20µl) diteteskan pada preparat ulas dan diratakan dengan loop. Setelah satu menit dicuci dengan air, dimasukan ke dalam larutan hypochlorite (ada 10.000 ppm chlorine). Slide diblot, dikeringkan dan diobservasi dengan oil immersion (x1000) untuk melihat adanya kapsul pink yang mengelilingi bacilli yang berwarna biru/hitam. Untuk menghindari kontaminasi laboratorium, slide dan kertas blotting harus diautoclave atau di didesinfeksi dengan hypochlorite. Pembiakan dan identifikasi B. anthracis Bacillus anthracis tumbuh pada hampir semua tipe Nutrient Agar, akan tetapi 5 s/d 7% Sheep Blood Agar atau Horse Blood Agar merupakan medium diagnostik pilihan. Darah merupakan material klinis utama untuk diuji. Swab darah atau cairan tubuh lainnya atau swab yang diambil dari jaringan atau organ yang terserang dapat ditumbuhkan pada blood agar. Setelah inkubasi selama 1 malam (overnight) pada suhu 370C, coloni B. anthracis berwarna putih atau abu-abu keputihan dengan diameter 0,3 – 0,5 mm, non haemolitik dengan permukaan basah ground-glass, dan sangat lengket ketika di ambil dengan loop. Ciri-ciri ini disebut sebagai ÅÎedusa head. Untuk mengidentifikasi B. anthracis dapat diikuti dengan uji untuk diagnosa phage gamma dan kerentanan terhadap penicillin dan induksi kapsul. Uji ada tidaknya motility merupakan uji tambahan yang dapat dilakukan. Prosedur uji kerentanan B. anthracis terhadap bakteriophage gamma sebagai berikut; streak platte blood agar atau Nutrient agar dengan organisme tersebut dan teteskan 10 - 5 ul larutan phage pada 1 tempat yang di streak. Petri dish yang mengandung 10 unit penicillin ditempatkan di arah yang berbeda. Tetesan suspensi phage dibiarkan masuk kedalamnya dan diinkubasi pada suhu 370C. Biakan kontrol harus dimasukkan, untuk itu menggunakan strain vaksin. Setelah diinkubasi beberapa jam, jika biakan itu B. anthracis daerah dibawah phage akan terhindar dari tumbuhnya Bakteri akibat lysisnya B. anthracis, dan zona terang akan terlihat mengelilingi petri dish yang mengandung penicillin. Konfirmasi virulensi dengan polymerase chain reaction (PCR) Template DNA dapat dibuat dengan cara meresuspensi koloni B. anthracis l air suling dan dipanaskan pada suhu 950 C pada nutrient agar dengan 25 selama 10 menit; disentrifuse sebentar pada suhu 4 C; supernatannya dapat digunakan untuk PCR. Target gen yang diamplifikasi adalah protective antigen dengan PCR product 596 bp dan kapsul dengan PCR product 846 bp. Spesimen lama, bahan yang telah diproses dan bahan dari lingkungan termasuk tanah
  • Karena kemungkinan tercemar dengan mikroorganisme lain yang akan membingungkan ketika ditumbuhkan pada nonselesctive agar, disarankan menggunakan prosedur sebagai berikut:
  • Sampel dihancurkan dengan 2 volume air suling, dan ditempatkan pada tangas air suhu 62,5 C selama 15 menit.
  • Encerkan hingga 10, 100 atau 1000 kali. 10-100 mikroliter ditanam pada blood agar dan 2250-300 mikrolter pada PLTE agar (polymixin, lysozyme, EDTA, thgallous acetate). Semua diinkubasi pada suhu 37 C.
  • Setelah diinkubasi satu malam koloninya diuji menggunakan cara yang tersebut diatas seperti pada spesimen segar.
Pemeriksaan biologik Hewan percobaan yang terbaik adalah marmut. Meskipun mencit cukup baik, tetapi mencit sangat rentan terhadap kontamin lain.
  • Setelah disuntik secara subkutan, marmot biasanya mati dalam waktu 36-48 jam, paling lama pada hari kelima. Jaringan marmut tersebut penuh dengan kuman Anthrax dan di bawah kulit tempat suntikan terjadi infiltrasi gelatin.
  • Penyuntikan hewan percobaan adalah cara yang paling tepat untuk membedakan kuman anthraks dari kuman anthrakoid.
Pemeriksaan serologik
Uji Ascoli Uji termopresipitasi Ascoli sangat berguna untuk menentukan jaringan tercemar Anthrax. Untuk uji Ascoli diperlukan serum presipitasi bertiter tinggi. Jaringan tersangka di-ekstrasi dengan air dengan cara perebusan, atau dengan penambahan kloroform. Cairan jernih yang diperoleh mengandung protein Anthrax, jika jaringan tersebut mengandung kuman Anthrax. Cairan tersebut disebut presiptinogen yang dipertemukan secara pelan-pelan dengan serum presipitasi (presipitin) dalam tabung sempit. Reaksi positif akan ditandai dengan terbentuknya cincin putih pada batas pertemuan antara kedua cairan tersebut. Enzyme linked immunosorbent assay (ELIZA) Sebanyak 3-5 g/ml komponen protective antigen (PA) toxin B. anthracis digunakan sebagai antigen pada pH tinggi (9,5) menggunakan carbonate-coating buffer. Uji hipersensitivitas (Anthraxin) Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikan 0,1 ml anthraxin secara intradermal pada hewan. Dilakukan pengamatan kulit 24 – 48 jam setelah penyuntikan, apakah timbul erythema atau tidak. Uji ini sebagai refleksi adanya cell-mediated immunity.
Diagnosa Banding
Anthrax harus dibedakan dengan penyakit yang non infeksius seperti gigitan serangga, ulcer, erysipelas, plague, ulceroglandular tularemia, infeksi klostridial, penyakit risketsia, orf dan lain sebagainya. Anthrax harus dibedakan dari kematian yang mendadak oleh sebab lain. Pada sapi dan babi, terutama sekali oleh pasteurellosis yang disertai gambaran pembengkakan pada leher. Pada sapi dan domba infeksi dengan Clostridia dapat menyebabkan kematian mendadak. Pada sapi perlu diperhatikan pula penyakit-penyakit leptospirosis akut, anaplasmosis, bacillary hemoglobinuria dan keracunan-keracunan oleh tanaman, timah atau fosfor yang akut. Pada kuda, anemia infectiosa yang akut, purpura hemorrhagica, macam-macam kolik, keracunan timah, dan sunstroke, mempunyai gejala-gejala serupa dengan Anthrax. Selain itu pada kuda dapat dikacaukan dengan surra, terutama jika dilihat dari timbulnya busung. Pada babi, hog cholera akut, malignant oedema bentuk pharyngeal mempunyai gejala-gejala serupa dengan Anthrax. Pada sapi dan kerbau dapat dikacaukan dengan keracunan, radang otak, penyakit pencernaan bentuk jahat AE, SE, surra, pirosplasmosis akut, rinderpest, dan penyakit Jembrana. [section_title title=V. Penanganan Penyakit]

V. Penanganan Penyakit

Pencegahan
Pada manusia
  • Tidak memakan daging tercemar Anthrax.
  • Tidak menyembelih hewan yang sakit, atau jatuh karena sakit.
  • Tidak memanfaatkan atau bersentuhan dengan daging, jerohan, kulit, tanduk tulang, dan rambut atau bagian tubuh lainnya dari hewan/ternak penderita Anthrax.
  • Mencuci bersih bahan makanan sebelum dimasak.
  • Memasak daging dan jerohan sampai matang, karena spora dapat dimusnahkan pada suhu 90 derajat C selama 45 menit atau 100 derajat C selama 10 menit.
  • Mencuci tangan sebelum makan.
Pada Hewan Sehat
  • Semua hewan ternak (sapi, kambing, domba, kerbau, babi, kuda) harus di vaksin secara teratur 2 kali dalam setahun.
  • Ternak yang sehat, tapi tinggal sekelompok dengan yang sakit diberi suntikan serum atau antibiotik, dan setelah kurang lebih 5 hari baru divaksin.
  • Kebersihan dan kesehatan kandan selalu di jaga dengan membersihkan kotoran dan memberikan desinfectan.
  • Hewan ternak diberi pakan yang tidak bercampur dengan tanah
  • Bagi hewan ternak besar (kerbau dan sapi) jangan terlalu dipaksakan bekerja berat, karena keletihan dan kurang makan dapat mempermudah berjangkitnya wabah anthrax.
  • Melaksanakan prosedur penyembelihan ternak dengan benar.
    • Ternak dipotong di RPH.
    • Ternak diistirahatkan minimal 12 jam sebelum penyembelihan.
    • Dilaksanakan pemeriksaan kesehatan hewan (pemeriksaan ante mortem)
    • Dilaksanakan penyembelihan sesuai dengan tata cara Islam dibawah pengawasan petugas yang berwenang.
    • Dilaksanakan pemeriksaan daging (pemeriksaan post mortem)
    • Pemberian cap/stempel pada daging sebagai tanda bukti sehat dan layak dikonsumsi.
    • Setiap ternak atau Bahan Asal Hewan (BAH) yang diperjualbelikan harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan dan BAH dari daerah asal ternak.
Pada Hewan Sakit
  • Dipisahkan dari ternak yang sehat.
  • Pengobatan dengan serum dan atau kombinasi antibiotik (penicillium, Streptomycin,Oxitetracyclin, Chloramphenicol) atau terapi (Sulametazine, Sulafanilamide, Sulafapyridin dan lain-lain).
  • Melakukan vaksinasi setelah sembuh.
Pengendalian dan Pemberantasan
Anthrax pada hewan ternak dapat dicegah dengan vaksinasi pada semua hewan ternak di daerah enzootik Anthrax yang dilakukan setiap tahun disertai cara-cara pengawasan dan pengendalian yang ketat. Di Indonesia dipakai vaksin aktif strain 34 F2, yang dapat dipakai untuk semua hewan ternak dan relatif aman, daya pengebalannya tinggi berlangsung selama 1 tahun. Dosis untuk hewan besar 1 ml, SC. Untuk hewan kecil : 0,5 ml, SC. Untuk hewan tersangka sakit dapat dipilih salah satu dari perlakuan sebagai berikut: (1) Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan (hewan besar, 20 -30 ml, hewan kecil 10 ml) (2) Penyuntikan antibiotika (3) Penyuntikan kemoterapetika (4) Penyuntikan antiserum dan antibiotika atau antiserum dan kemoterapetika. Cara penyuntikan antiserum homolog ialah IV atau SC, sedangkan untuk antiserum heterolog SC. Dua minggu kemudian bila tidak timbul penyakit, disusul dengan vaksinasi. Bagi ternak yang sudah mati akibat anthrax, dibakar, diberi desinfektan kemudian dikubur. Sedangkan bangkai yang sudah terlanjur dikubur, tanahnya dibuka kembaIi, tanah galian diberi desinfektan dan kapur, serta bangkai dibakar, kemudian kuburan kembali ditutup.Susu yang berasal dari ternak sa kit harus dimusnahkan, dibuang dengan dicampur larutan formalin.
Pengobatan
Anthrax stadium awal pada kuda dan sapi dapat diobati dengan procain penicilin G dilarutkan dalam air suling steril dengan dosis untuk hewan besar : 6.000 - 20.000 IU/kg berat badan, IM setiap hari. Streptomycin sebanyak 10 gram (untuk hewan besar seberat 400 - 600 kg) setiap hari yang diberikan dalam dua dosis secara intramuskuler dianggap lebih efektif dari penicillin. Antibiotika lain yang dapat dipakai antara lain: chloramphanicol, erythromycin, atau sulfonamine (sulfamethazine, sulfanilamide, sulfapyridine, sulfathiazol), tetapi obat-obat tersebut kurang ampuh dibandingkan dari penicillin atau tetracycline. Penisilin merupakan obat antibiotika yang paling ampuh untuk penderita antraks yang alami dan jarang resisten. Pengobatan penderita/tersangka antraks, tergantung dari tipe atau gejala klinisnya yaitu dilakukan penyuntikan antiserum dengan dosis kuratif, dapat juga dikombinasikan dengan pemberian antibiotika (penicillin atau tetracycline). Setiap kasus kejadian atau dugaan anthrax harus dilaporkan kepada Dokter Hewan berwenang dan Dinas Peternakan setempat, karena dampaknya bisa sangat luas apabila dilakukan penanganan yang salah. Pengobatan dapat menggunakan penisilin, tetrasiklin, dan obat-obatan sulfa. Apabila pengaruh obat sudah hilang, vaksinasi baru bisa dilakukan sebab pengobatan dapat mematikan spora vaksin. Untuk memutus penularan, bangkai ternak dan semua material yang diduga tercemar (karena pernah bersinggungan dengan hewan sakit) harus dimusnahkan (dibakar) dan dikubur dalam-dalam di bawah pengawasan Dokter Hewan atau petugas peternakan berwenang. Bagian atas dari lubang kubur dilapisi batu gamping secukupnya. Area penguburan diberi tanda supaya semua hewan di area sekitar menjauhi lokasi penguburan. [section_title title=VI. Regulasi]

VI. Regulasi

Peraturan perundangan yang menjadi landasan program pemberantasan Anthrax, antara lain:
  • Undang – Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 18 tahun 2009
  • Undang-Undang No. 4 tahun 1984 teentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara RI tahun 1984 No. 20, tambahan lembaran Negara RI no. 3273)
  • Undang – Undang no. 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan (lembaran negara RI tahun 1992 no. 56, tambahan lembaran negara RI no. 3482)
  • Peraturan pemerintah no. 15 tahun 1977 tentang penolakan, pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan.
  • Peraturan pemerintah no. 22 tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner .
  • Peraturan Pemerintah no. 40 tentang penaggulangan wabah penyakit menular.
  • Keputusan Menteri Pertanian No. 487/Kpts/Um/6/1981/tentang Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan Menular.
  • Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan, No. 101/Kpts/PD.610/F/10/04 tanggal 28 Oktober 2004 tentang Pedoman Penaggulangan Wabah Penyakit Hewan Menular Radang Limpa pada Ruminansia (Anthrax) di Kabupaten Bogor.
[section_title title=VII. Daftar Pustaka »