Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Friday, 20 October 2017
dokter hewan

Dokter Hewan dan Peternak, Sebuah Kerjasama yang Saling Menguntungkan

Selasa, 7 April 2009

Era ini, lebih dari sebelumnya, telah terjadi berbagai wabah penyakit hewan, yang juga dapat ditularkan ke manusia (zoonosis), sehingga mengakibatkan pergolakan sosial dan ekonomi dunia, dan menyebabkan kepanikan baik di tingkat national, regional maupun global. Krisis baru-baru ini menggambarkan bagaimana permasalahan penyakit hewan yang serius dapat mempunyai dampak global pada ekonomi masyarakat, konsumen, dan merupakan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.

Dalam konteks organisme sebagai agen penyakit, diidentifikasi ada 1.415 spesies yang mampu menular ke manusia, terdiri dari 217 virus dan prion, 538 bakteri dan ricketsia, 307 jamur, 66 protozoa dan 287 jenis cacing. Dari jumlah 1.415 spesies tersebut diatas 868 (68%) diklasifikasikan sebagai agen penyebab zoonosis dan 175 spesies patogen diasosiasikan dengan penyakit baru. Dari kelompok 175 patogen yang baru muncul ini, 132 (75%) adalah agen penyebab zoonosis (Cleaveland et al, 2001).

Dokter hewan memegang peranan utama di berbagai negara untuk memastikan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat, namun efektivitas aksi dokter hewan berkaitan erat dengan hubungan mereka dengan para peternak. Kenyataan di lapangan, para peternak di seluruh dunia merupakan penjaga pertama dalam deteksi penyakit hewan dan pejuang utama dalam melawan berbagai penyakit hewan sehingga perannya krusial dan tidak dapat dikesampingkan.Para peternak juga lah yang akan menjadi korban pertama dari kerugian-kerugian akibat penyakit hewan.

Sejumlah penyakit zoonosis yang masuk ke dalam daftar penyakit hewan strategis di Indonesia antar lain anthrax, avian influenza, salmonellosis, dan brucellosis merupakan penyakit-penyakit hewan yang banyak menyerang hewan ternak. Penyakit zoonosis penting lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah rabies, tuberculosis, leptospirosis, toxoplasmosis, Japanese encephalitis, streptococosis/staphylococosis, dan clostridium (tetanus). Selain itu juga penyakit zoonosis yang berkaitan dengan keamanan pangan (food borne disease) di Indonesia adalah camphylobacteriosis, salmonellosis, shigella, yersinia, verocyto toxigenic Escherichia coli (VTEC), dan listeriosis.

Pengalaman telah menunjukkan betapa pentingnya untuk mengajak 600 juta peternak di seluruh dunia agar dapat berperan serta dalam rantai pengendalian penyakit hewan. Untuk itu peningkatan pelatihan manajemen kesehatan hewan yang didukung oleh para dokter hewan harus dipandang sebagai langkah utama dalam menginisiasi berbagai strategi antisipasi resiko dan peningkatan kerjasama yang saling menguntungkan. Peringatan dini yang diikuti dengan respon yang cepat merupakan kunci dalam mengendalikan sumber penyakit hewan menular, yang dilakukan melalui integrasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam sistem pencegahan dan pengendalian penyakit.

Seiring dengan World Veterinary Day 2009 yang akan diperingati pada tanggal 25 April 2009, yang bertema “Veterinarians and livestock farmers, a winning partnership”, marilah kita mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan demi kesehatan bersama.