Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Sunday, 22 October 2017
seminaroh2008_small

Ulang Tahun CIVAS ke-3: Seminar “Konsep One Health dalam Rangka Penanggulangan Penyakit Zoonosis”

Sabtu, 20 Desember 2008

Dalam rangka mendukung upaya penanggulangan berbagai penyakit zoonosis di Indonesia yang salah satunya adalah dengan peningkatan kesadaran dan kepedulian bersama akan pentingnya kerjasama semua pihak, baik profesi kedokteran manusia, kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat maupun khalayak ramai, maka Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) telah menyelenggarakan Seminar Setengah Hari dengan Judul “Konsep One Health dalam Rangka Penanggulangan Penyakit Zoonosis” di Hotel Salak The Heritage Bogor, pada hari Sabtu, 20 Desember 2008.

Kegiatan seminar tersebut merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian kegiatan bertajuk “One Health 2008” dengan tema “Satu Dunia Menuju Kesehatan Bersama” yang diselenggarakan oleh CIVAS dalam upaya penanggulangan penyakit zoonosis dan sekaligus dalam rangka memperingati Ulang Tahun CIVAS yang ke-3.
Seminar yang berlangsung dari pukul 09.45 WIB sampai dengan pukul 13.30 WIB tersebut menghadirkan empat pembicara dengan masing-masing judul makalah yang dibawakan adalah sebagai berikut: (1) drh. Tri Satya Putri Naipospos, MPhil, PhD dari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS), dengan makalah berjudul “Strategi Mengurangi Risiko Penyakit dengan Fokus pada Interaksi Manusia, Hewan dan Lingkungan – Kontribusi bagi Konsep One World One Health”, (2) Prof. Dr. dr. Nasrin Kodim, MPH, dari Fakulas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, dengan makalah berjudul ”Penyakit Zoonosis di Dunia dan di Indonesia Kini”, (3) drh. Bagoes Poermadjaja, MSc, dari Direktorat Kesehatan Hewan, Departemen Pertanian Republik Indonesia, dengan makalah berjudul ”Sistem Surveilans dan Situasi Penyakit Zoonosis di Indonesia”, dan drh. Wilfred Purba, MKes, dari Sub Direktorat Zoonosis, Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binantang, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, denganjudul ”Sistem Surveilans dan Situasi Penyakit Zoonosa”. Seminar tersebut dipimpin oleh Moderator yaitu drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto, MS, PHD dari Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Hasil seminar dirumuskan oleh Moderator dan Tim Perumus yang terdiri dari drh. Pebi Purwo Suseno dari CIVAS dan drh. Surya Al Qamar dari FAO Indonesia. Pada akhir pemaparan makalah sebelum dimulainya sesi diskusi, Prof. Dr. drh. Djokowoerjo Sastradipradja dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) berkesempatan memaparkan secara singkat juga mengenai aktifitas AIPI terkait penerapan konsep ”One World One Health” (OWOH) di Indonesia.

Seminar dihadiri oleh hampir 90 peserta dari berbagai instansi, diantaranya yaitu, Direktorat Kesehatan Hewan Departemen Pertanian RI, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Departemen Pertanian RI, Direktorat Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Departemen Kesehatan RI, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Palang Merah Indonesia Pusat dan Cabang Bogor, Dinas Peternakan wilayah DKI Jakarta, Bogor, Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota Bogor, KOMNAS FBPI, KEPRAKS, ASOHI, instansi pengujian (BPPHK Cikole, Laboratorium Kesmavet DKI Jakarta), BPDAK Cinagara, lembaga yang bergerak di bidang satwa liar (Yayasan Badak Indonesia, Vesswic, WCS), perwakilan dari APHIS-USDA Jakarta, perwakilan dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB, para dokter hewan yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta serta perorangan di bidang-bidang lain yang peduli dengan isu zoonosis. Hasil rumusan seminar tersebut adalah sebagai berikut:

Materi Seminar :

  • Material Prof. DR. Dr. Nasrin Kodim, MPH – Download
  • Material Drh. Turni Rusli Syamsudin, MM - Download
  • Material Drh.Wilfried Purba, MKes – Download
  • Material drh. Tri Satya Putri Naipospos, MPhil, PhD – Download

Hasil Seminar :

  1. Semakin meningkatnya ancaman zoonosis atau penyakit menular pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia dan atau sebaliknya, hal tersebut berkaitan dengan adanya perubahan ekologi seperti perubahan demografi dan ekosistem yang merupakan faktor utama dalam munculnya penyakit.
  2. Faktor sosial, ekonomi dan politik seperti perjalanan internasional (dunia menjadi tidak berbatas / borderless), globalisasi pertanian dan perdagangan, kemiskinan dan adanya ketimpangan sosial serta pengungsian besar-besaran akibat bencana alam ataupun perang juga berpengaruh terhadap munculnya penyakit.
  3. Faktor penting lain yang mempengaruhi munculnya penyakit antara lain adalah adanya adaptasi mikroorganisme, perubahan iklim dan cuaca, serta perubahan kepekaan hospes.
  4. Dalam penanganan zoonosis secara holistik diperlukan kerjasama multi disiplin dan lintas sektoral baik di tingkat lokal, nasional dan internasional guna mencapai tingkat kesehatan yang optimal manusia, hewan dan lingkungan. Konsep ini dikenal dengan istilah ”One Health” .
  5. ”One Health” diwujudkan dalam bentuk integrasi yang kuat dan sinergis terutama antara bidang kedokteran dan kedokteran hewan dalam memerangi zoonosis dengan membangun kolaborasi, koalisi dan komunikasi antar dokter, dokter hewan, ahli kesehatan masyarakat, ahli kesehatan lingkungan dan berbagai disiplin lainnya yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung.
  6. Perwujudan ”One Health” dilakukan dengan membangun sumber pengetahuan bersama terutama dibidang epidemiologi, mikrobiologi, patologi, biomolekuler, komunikasi risiko dan lain sebagainya, serta pelaksanaan studi zoonosis yang berjalan simultan terhadap orang, hewan domestik dan satwa liar.
  7. Strategi ”One Health” dititikberatkan pada reduksi risiko, surveilans terpadu untuk deteksi dini dan peringatan dini, respon terpadu dalam menangani wabah serta kerjasama penelitian pada posisi keterkaitan hewan, manusia dan lingkungan (animal human ecosystems interface).
  8. Pelaksanaan ”One Health” memerlukan adanya ”pemutusan halangan” struktural, birokrasi, politik maupun kultural yang terjadi di antara bebagai lembaga, individu, spesialisasi dan sektor sehingga semua inovasi, keahlian dan dana yang diperlukan dapat disalurkan secara terpadu untuk menjawab berbagai tantangan yang mengganggu kesehatan manusia, hewan domestik dan satwa liar serta integritas ekosistem bumi.
  9. Untuk membangun pola terbaik dalam mengurangi risiko dan meminimalkan dampak global epidemi dan pandemi yang disebabkan oleh zoonosis sangat diperlukan upaya peningkatan terpadu penyidikan penyakit (disease intelligence), surveillans lintas spesies, serta sistem kesiapsiagaan dan respon darurat (emergency preparedness and response).
  10. Dari sudut pandang kedokteran hewan, pelaksanaan konsep ”One Health” memerlukan sistem kesehatan hewan nasional yang kuat dan stabil serta komunikasi kesehatan hewan yang efektif.
  11. Sistem kesehatan hewan nasional yang kuat dan stabil mengacu pada tingkatan kompetensi dan kualitas berdasarkan standar internasional yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) melalui konsep ”Performance of Veterinary Services” atau PVS yang sejalan dan sesuai serta saling melengkapi dengan konsep International Health Regulation (IHR) yang diterbitkan oleh WHO.
  12. Perlu adanya perundang-undangan tentang veteriner guna mencapai sistem kesehatan hewan nasional yang kuat dan stabil.
  13. Kerjasama penelitian sangat diperlukan untuk memahami berbagai aspek seperti faktor pemicu dan sumber munculnya penyakit, faktor penyebaran, faktor bertahannya penyakit, biologi patogen pada sistem yang berbeda, pengembangan alat baru untuk diagnosa dan pencegahan, studi sosio-ekonomi dan budaya serta studi kompleksitas dan keragaman institusional.
  14. Keluaran potensial dari konsep ”One Health” mencakup perluasan ruang lingkup dan penguatan pendidikan kedokteran dan kedokteran hewan, perbaikan tindakan pencegahan dan manajemen pasien yang berisiko terinfeksi zoonosis, perbaikan deteksi dini dan pengendalian zonosis, perbaikan tingkat cakupan vaksinasi, perbaikan pengembangan diagnostik, therapeutik dan peralatan melalui penelitian biomedik terpadu.
  15. “One World, One Health” menuntut kita untuk bisa lebih adaptif, visioner dan menggunakan pendekatan multidisiplin untuk menjawab tantangan zoonosis dimasa datang.