Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 21 August 2017
TOT_web

Training of Trainer of AI Communication Workshop in Bali

Kamis, 13 Maret 2008

Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, yang sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Penduduknya mayoritas beragama Hindu dengan adat budaya yang homogen dan masih sangat terjaga. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya.
Ketika wabah flu burung menyerang sektor perunggasaan di Indonesia pada tahun 2003 dan akhirnya menyebar hampir ke seluruh wilayah di Indonesia, Bali pun tidak dapat menghindarkan diri dari penyakit ini. Bahkan pada tahun 2007 penyakit flu burung ini telah menimbulkan korban manusia di Bali. Sebagai sebuah daerah yang detak kehidupannya sangat tergantung dari sektor pariwisata maka kasus flu burung pada manusia merupakan sebuah kejadian yang dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak yang buruk terhadap kondisi pariwisata Bali.

Untuk itu Bali, sebagai daerah tujuan wisata, harus menggalang kepedulian semua pemangku kepentingan untuk menanggulangi wabah flu burung sehingga disepakati sebuah strategi pengendalian yang terpadu, termasuk strategi bagaimana menyampaikan informasi secara baik dan benar kepada seluruh elemen masyarakat.

Sehubungan dengan bagaimana menyampaikan informasi secara baik dan benar sebagai bagian dari sebuah strategi pengendalian flu burung secara terpadu, maka CIVAS bekerjasama Dinas Peternakan Provinsi Bali dan United State Department of Agriculture (USDA) pada tanggal 11 – 13 Maret 2008, di Bali, melaksanakan Training of Trainer of AI Communication Workshop.

Sebagian besar peserta dalam pelatihan ini adalah dokter hewan perwakilan dari berbagai institusi baik pemerintah daerah dan dinas peternakan Bali, Direktorat Jendral Peternakan,peternak, LSM, dan akademi.

Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk mempersiapkan para peserta untuk dapat mengkomunikasikan secara efektif persoalan-persoalan penting dalam bidang kesehatan hewan yang sedang menjadi perhatian masyarakat, dengan lebih fokus dalam persoalan flu burung. Dalam pelatihan ini instruktur memberikan banyak pengetahuan dan filosofi mengenai komunikasi, serta bagaimana mengkomunikasikan resiko sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Peserta juga secara aktif dan partisipatif melakukan berbagai skenario wawancara untuk dapat menjawab berbagai pertanyaan yang ada di masyarakat mengenai flu burung.

Dan sebagai hasil akhir dari pelatihan ini, para peserta diminta untuk mendiskusikan dan membuat peta pesan mengenai flu burung, yang disesuaikan dengan kondisi, budaya dan kepentingan propinsi Bali. Peta pesan ini diharapkan dapat dipakai sebagai salah satu pedoman komunikasi AI bagi pemerintah daerah Bali.

Setelah pelatihan tersebut kemudian kegiatan dilanjutkan dengan Workshop for Development of Messages for each Spesific Target Audiences pada tanggal 14-15 Maret 2008 di Bali. Lokakarya ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat baik dari pemerintah daerah dan pusat, media massa, swasta, peternak, tokoh masyarakat, tokoh agama, dokter dan dokter hewan, pedagang ayam, dll.Dengan adanya perwakilan dari banyak kalangan masyarakat diharapkan lokakarya ini dapat menghasilkan suatu strategi komunikasi yang terpadu dengan target sasaran yang jelas dalam rangka mengkomunikasikan persoalan flu burung khususnya di Bali.

Seperti pada pelatihan Training of Trainer, para peserta lokakarya juga diminta untuk mendiskusikan dan membuat peta pesan mengenai persoalan flu burung namun dengan target sasaran yang lebih spesifik. Target sasaran yang dipilih merupakan target sasaran yang disepakati oleh peserta sebagai prioritas dalam pengendalian flu burung di Bali, yaitu penyelundupan unggas, pemakaian unggas hidup dalam upacara, konsumsi lawar, dan adu ayam.

Instruktur kegiatan ini, baik dalam pelatihan dan lokakarya, adalah Dr. Vincent Covello, Ph.D (Direktur Center for Risk Communication, New York), dan Angela Harless (Communication Coordinator, USDA,Washington).

Diharapkan hasil diskusi dan rekomendasi dari kegiatan ini agar dapat digunakan sebagai strategi komunikasi dalam rangka pengendalian flu burung di Bali pada khususnya, dan lebih jauh lagi dapat dikembangkan di setiap daerah dengan mengacu kepada kondisi dan situasi di daerah masing-masing.