Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Monday, 21 August 2017
LBM-nsional-web

Lokakarya Nasional Pasar Unggas Hidup/Tradisional di Indonesia

Kamis, 24 Januari 2008

Hingga 31 Maret 2008 jumlah kasus AI pada manusia di Indonesia telah mencapai 131 kasus dengan 107 meninggal dunia (Komnas FBPI). Indonesia juga memiliki tingkat fatalitas kasus (81,68%) tertinggi di dunia. Hal ini tidak hanya menjadi peringatan bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia internasional bahwa pandemi influenza mungkin terjadi. Munculnya kasus pada manusia dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa pengendalian virus flu burung di Indonesia masih belum optimal.

Flu burung perlu ditangani secara komprehensif, mulai dari hulu hingga hilir. Pengendalian penyakit ini tidak hanya dilakukan di peternakan tetapi juga harus dilaksanakan sepanjang rantai distribusi unggas dan produk unggas. Penyebaran flu burung di Indonesia sejauh ini tidak dapat dipisahkan dari buruknya penanganan unggas dan produk unggas dalam rantai distribusi (termasuk pasar yang menjual unggas dan produknya).

Titik kritis dari rantai distribusi unggas dan produknya telah diidentifikasi dari lokakarya-lokakarya yang telah dilaksanakan di enam (6) kota oleh Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (Komnas FBPI), Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), dan Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS). Titik kritis yang dimaksud diantaranya peternakan, tempat penampungan unggas (TPnU), rumah potong unggas skala menengah dan besar, rumah potong unggas skala kecil, transportasi unggas dan produknya, dan los penjualan daging unggas di pasar. Titik-titik kritis ini harus mendapatkan perhatian khusus untuk menekan penyebaran flu burung.

Sebagai kegiatan pemungkas dari rangkaian enam (6) seri lokakarya mengenai pasar unggas hidup/tradisional yang telah diadakan di Tangerang, Medan, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Bandar Lampung, pada tanggal 22-24 Januari 2008 Komnas FBPI, USDA, dan CIVAS telah mengadakan lokakarya nasional di Jakarta. Lokakarya tersebut mendiskusikan strategi untuk mengurangi penyebaran virus flu burung dalam rantai distribusi unggas dan produknya. Pembuatan pedoman penataan pasar unggas, rantai distribusi unggas dan produk unggas merupakan poin diskusi utama dalam lokakayra ini. Pedoman tersebut diharapkan dapat mengurangi penyebaran flu burung dalam rantai distribusi unggas dan produk unggas. Pedoman penataan diantaranya mencakup good practices di peternakan, tempat penampungan unggas (TPnU), rumah potong unggas skala kecil, transportasi unggas hidup dan karkas, sistem inspeksi daging unggas, dan pemberdayaan masyarakat pasar. Keberhasilan pengendalian flu burung sangat bergantung pada partisipasi masyarakat, oleh karena itu konsep pemberdayaan masyarakat pasar juga disertakan dalam pedoman tersebut untuk mengoptimalkan usaha pengendalian flu burung. Selain panduan penataan tersebut, lokakarya nasional juga memutuskan pembentukan pasar-pasar percontohan di beberapa daerah dan usulan peraturan presiden yang akan diinisiasi oleh Komnas FBPI. Lokakarya ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi yang mendukung pelaksanaan usaha pengendalian flu burung melalui intervensi di pasar unggas dan distribusi unggas dan produk unggas. Lokakarya nasional telah melibatkan banyak pihak termasuk pemerintah pusat (lintas sektoral), pemerintah lokal, anggota DPRD, swasta, peternak, pedagang, pengelola pasar, akademisi, para ahli, asosiasi profesi, dan lembaga swadaya masyarakat.

Lokakarya nasional dibuka oleh Elisa Wagner dari USDA dan Emil Agustiono dari Komnas FBPI. Dalam lokakarya tersebut seluruh peserta setuju untuk bekerja salam dalam menata pasar unggas dan rantai distribusi unggas dan produk unggas sebagai usaha untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari flu burung di Indonesia. (AJ)