Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 21 November 2017

Surveilans Avian Influenza di Tempat Penampungan Ayam di Propinsi DKI Jakarta

Minggu, 10 Juni 2007

Tempat pengumpulan ayam (TPnA) sebagai tempat berkumpulnya unggas dari berbagai daerah sebelum dipotong atau dijual ke pasar, merupakan tempat yang dinilai berisiko tinggi untuk menularkan virus AI. Di tempat ini kontak tidak hanya terjadi antar unggas yang dikumpulkan, tetapi juga terjadi antara unggas dan manusia. Status endemik AI pada sebagian besar wilayah di Indonesia menyebabkan risiko penularan AI di TPnA yang berasal dari unggas yang dikumpulkan dari berbagai daerah semakin besar.

Provinsi DKI Jakarta memiliki ratusan TPnA karena wilayah ini merupakan daerah tujuan pemasaran bagi ratusan ribu ayam yang didatangkan dari berbagai daerah. Sistem pengumpulan dan pemeliharaan yang diterapkan terhadap unggas di tiap TPnA cukup beragam. Dengan berbagai kondisi tersebut, DKI Jakarta merupakan tempat yang menarik untuk melakukan kegiatan surveilans dalam rangka mengetahui keberadaan virus AI di TPnA.

Wageningen International bekerjasama dengan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta dan Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) menyelenggarakan kegiatan surveilans AI selama tiga bulan (April – Juni 2007) di TPnA di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaan virus AI di TPnA di wilayah Provinsi DKI Jakarta serta mengidentifikasi berbagai faktor risiko terjadinya infeksi virus AI di TPnA tersebut.

Kegiatan surveilans ini dilakukan dengan menempatkan 7 – 8 ekor ayam sentinel di 40 TPnA yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta. Sentinel tersebut dipantau secara terus menerus untuk mengetahui status infeksinya terhadap AI. Hal ini dilakukan melalui pemeriksaan terhadap sampel yang terdiri dari serum darah, swab kloaka dan trakhea. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap sampel meliputi uji HI terhadap serum darah dan rt-PCR untuk swab kloaka dan trakhea.

Kuisioner terstruktur digunakan untuk menjaring berbagai informasi mengenai karakteristik umum TPnA dan karakteristik sistem pemeliharaan yang diterapkan di TPnA yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya penularan AI di TPnA tersebut.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan surveilans ini antara lain bahwa aktifitas TPnA di wilayah DKI Jakarta sebagian besar mempunyai jumlah pekerja tidak lebih dari 10 orang dan mempunyai pengalaman menjalankan usaha lebih dari 5 tahun. Sistem pemeliharaan yang diterapkan sebagian besar menggunakan kandang tipe postal dengan luas kurang dari 500 m2. Sebagian besar TPnA menjual ayam broiler dan memperoleh ayam dari pemasok tetap. Selama pemeliharaan di TPnA, ayam selalu diberi makan dan minum, dan pada umumnya waktu ayam tinggal di TPnA tidak lebih dari 1 hari sebelum akhirnya dijual. Sistem kesehatan unggas yang diterapkan antara lain melampirkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) pada setiap ayam yang datang, melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keseluruhan ayam yang datang oleh pekerja sendiri. Biosekuriti yang diterapkan antara lain menggunakan truk khusus untuk transportasi, menggunakan keranjang yang terbuat dari bahan plastik, penerimaan ayam pada pagi hari, membersihkan kandang dengan hanya disapu dan diberi desinfektan, memisahkan ayam yang terlihat sakit serta membuang kotoran dan bangkai ayam yang mati.

Hasil pemeriksaan sampel swab menunjukkan adanya virus AI (H5) di 84,2% TpnA kegiatan surveilans di wilayah DKI Jakarta. Manajemen kesehatan unggas dan biosekuriti yang diterapkan saat ini di TPnA kegiatan surveilans di wilayah DKI Jakarta tidak efektif untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus AI ke dalam TPnA. Manajemen kesehatan unggas dan biosekuriti yang saat ini diterapkan di TPnA kegiatan surveilans tersebut tidak efektif karena belum dilaksanakan secara benar dan maksimal.

Selama kegiatan surveilans, jika dilihat dari seluruh TPnA terinfeksi AI di wilayah DKI Jakarta, maka kemampuan bertahan hidup ayam sentinel rata-rata adalah 20 hari, dengan tingkat kematian yang tinggi pada ayam sentinel sampai hari ke 45 setelah penempatan di TPnA. Faktor risiko terkait manajemen pemeliharaan yang berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan bertahan hidup sentinel di TPnA adalah pembersihan kandang secara teratur, pemberian obat, luas kandang, penanganan bangkai ternak dan waktu pengiriman unggas.

Rekomendasi yang diberikan berdasarkan hasil yang diperoleh adalah perlu dilakukan studi lanjutan untuk menentukan asal virus yang ditemukan di TPnA terutama mengenai keberadaan virus AI pada ayam yang datang ke TpnA dan diperlukan perbaikan terhadap manajemen pemeliharaan, manajemen kesehatan unggas, praktek biosekuriti dan higiene di TPnA, terutama terkait pengendalian virus avian influenza (AI) di TPnA.