Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies
Tuesday, 20 November 2018
bebek_ragam

Studi Itik Free Range

Rabu, 15 Maret 2006

Proyek pertama CIVAS adalah studi lapang mengenai sistem peternakan itik free-range skala kecil/sedang di Indonesia. Projek ini didasarkan pada Letter of Agreement antara FAO dan CIVAS yang ditandatangani oleh FAO pada tanggal 13 Desember 2005 dan oleh CIVAS pada tanggal 15 Desember 2005. Studi ini dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2006 dan laporan akhirnya akan diberikan pada tanggal 15 Maret 2006.

Alasan dari studi ini adalah bahwa itik diketahui merupakan salah satu unggas air yang berperan sebagai reservoir alami bagi virus Influenza A. Dalam unggas air, virus ini bereplikasi terutama di saluran pencernaan dan dikeluarkan bersamaan dengan feses. Akibatnya virus ini biasanya ditularkan secara oral melalui air. Sehingga sistem peternakan intensif memiliki kemungkinan yang tinggi untuk berperan penting dalam penyebaran virus karena perpindahan itik dari satu daerah ke daerah lain.

Tujuan studi ini adalah untuk lebih memahami peran dari sistem peternakan itik free range dalam penyebaran Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) di Indonesia. Studi ini juga akan mengidentifikasi celah-celah pengetahuan yang nantinya perlu diselidiki lebih lanjut dan membuat rekomendasi awal untuk usaha pengendalian penyakit yang berkaitan dengan pelaksanaan sistem peternakan.

Seorang konsultan internasional FAO, Dr. Stephen Swan telah mengunjungi Indonesia pada 17-19 Januari 2006 untuk mengkoordinasikan program ini dengan CIVAS. Dengan didampingi oleh dua orang staf CIVAS, Dr. Swan telah meninjau beberapa peternakan itik di kecamatan Mauk dan Spartan, kabupaten Tangerang.
Itik di Indonesia (sebagai komiditi unggas) kurang dianggap penting dibandingkan ayam. Itik mewakili 2.8% dari total produksi unggas termasuk sektor komersil dan perhitungan semua kapsitas broiler batch per tahun atau 11.6% dari unggas pedesaan dan peternakan unggas rakyat (sektor 4).

Sistem ekstensif tradisional (sektor 4) umumnya dilakukan dengan mengangon itik untuk mencari sumber makanan di sawah atau daerah berawa. Itik biasanya diangon oleh peternak setiap hari untuk mencari makan sisa-sisa panen padi, siput, patahan beras, ikan kecil, serangga, dedaunan (gulma), kepiting, dan katak. Keong mas dapat juga ditemukan di beberapa daerah.

Sekawanan itik yang diangon oleh seorang peternak biasanya berukuran 90 sampai 130 itik. Pada siang hari, kawanan itik (umumnya betina dewasa) dibiarkan mencari makan di sawah yang sudah dipanen dan daerah lainnya dimana ada banyak makanan. Pada malam hari, kawanan itik dimasukkan kembali ke kandang, biasanya terbuat dari bambu, dimana itik akan bertelur di pagi hari. Telur itik kemudian dikumpulkan dan dijual atau dikonsumsi oleh keluarga peternak.

Sistem semi-intensif (sektor 3) umumnya bersifat semikomersil atau komersil, dimana itik dipelihara dalam area terbatas yang ada kolamnya, mengingat secara naluriah itik menyukai air. Dalam sistem ini, itik bebas mencari makan, beristirahat, dan berenang dalam kolam di dalam area tersebut, agar mereka merasa seperti hidup dalam lingkungan alaminya.

Studi ini didasarkan pada empat sumber informasi utama yaitu: (1) data sekunder dari dokumen yang disediakan oleh kabupaten; (2) data primer yang diperoleh dari masing-masing kabupaten dengan mewawancarai petugas dinas kabupaten menggunakan kuesioner; (3) data primer dari peternak melalui wawancara langsung dengan peternak menggunakan kuesioner; dan (4) literatur ilmiah melalui pencarian literatur di perpustakaan dan internet. Kelima kabupaten yang telah dipilih sebagai lokasi studi adalah: (1) kabupaten Tangerang di provinsi Banten; (2) kabupaten Subang di provinsi Jawa Barat; (3) kabupaten Cirebon di provinsi Jawa Barat; (4) kabupaten Brebes di provinsi Jawa Tengah; dan (5) kabupaten Pemalang di provinsi Jawa Tengah.